Situs Resmi • Pelaksanaan Program Badan Gizi Nasional
Indonesia
SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi)
SPPG Bandung Banjaran Ciapus 3 (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi)
Berita Nasional (BGN)

MBG: program gizi sekaligus penggerak ekonomi

ANTARA • 4 April 2026

MBG: program gizi sekaligus penggerak ekonomi

  • Sumber: ANTARA
  • Tanggal: 4 April 2026
  • Tautan asli: https://www.antaranews.com/berita/5510861/mbg-program-gizi-sekaligus-mesin-ekonomi
  • Gambar: https://cdn.antaranews.com/cache/1200x800/2025/10/20/IMG_20251020_213939.jpg

Setiap anggaran yang dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan makan siswa tidak hanya berdampak pada peningkatan gizi, tetapi juga mampu mendorong produksi lokal, menggerakkan aktivitas perdagangan, membuka lapangan kerja, memperkuat koperasi, serta meningkatkan pendapatan masyarakat.

Jakarta (ANTARA) - Cara pandang terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kerap belum tepat. Perhatian publik cenderung terfokus pada persoalan-persoalan teknis seperti makanan basi, keterlambatan distribusi, hingga tata kelola yang belum optimal.

Hal-hal tersebut memang penting, namun bukan inti dari persoalan. Pertanyaan yang lebih mendasar justru jarang muncul: apakah MBG hanya sebatas program penyediaan makanan, atau sebenarnya merupakan penggerak ekonomi berskala besar?

Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika dilihat dalam konteks Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagai wilayah kepulauan dengan tantangan kemiskinan, keterbatasan infrastruktur, tingginya biaya logistik, serta ekonomi yang masih bertumpu pada sektor pertanian dan usaha kecil, NTT memiliki peluang untuk memanfaatkan MBG sebagai instrumen penggerak ekonomi lokal, bukan sekadar program sosial.

Di wilayah seperti NTT, kebijakan publik yang menghadirkan pasar dalam skala besar dan berkelanjutan seharusnya dipandang sebagai momentum pembangunan ekonomi masyarakat.

Jika MBG hanya dipahami sebagai program makan, maka perhatian akan terbatas pada menu, porsi, dan anggaran. Namun jika dilihat dari perspektif ekonomi, MBG merupakan pasar besar yang didanai negara, berjalan setiap hari, dan berpotensi jangka panjang. Di sinilah letak persoalan utama—bukan pada programnya, melainkan pada cara memaknainya.

Baca juga: Jadi motivasi ke sekolah, siswa di NTT minta MBG dibagikan juga Sabtu

Pasar yang terjamin

Selama ini, perhatian lebih banyak tertuju pada biaya per porsi, sementara pertanyaan tentang siapa yang menikmati perputaran ekonomi dari program ini belum banyak dibahas. Padahal, program makan sekolah menciptakan permintaan besar terhadap berbagai komoditas seperti beras, sayuran, telur, daging, ikan, buah, bumbu, jasa memasak, distribusi, pengemasan, hingga tenaga kerja.

Dengan demikian, negara pada dasarnya sedang membangun pasar institusional yang kuat. Pengadaan pangan publik seperti ini dapat menjadi sarana untuk memperkuat rantai nilai lokal serta membuka akses pasar bagi produsen kecil jika dirancang dengan baik.

Bagi NTT, hal ini memiliki makna strategis. Salah satu tantangan utama ekonomi daerah adalah lemahnya keterhubungan antara produksi masyarakat dan kepastian pasar. Petani sering tidak memiliki kepastian penjualan, peternak tidak memiliki kontrak pembelian yang jelas, dan koperasi belum berfungsi optimal secara ekonomi. Dalam konteks tersebut, MBG menawarkan sesuatu yang sangat berharga, yaitu kepastian permintaan.

Karena itu, MBG seharusnya tidak hanya dipandang sebagai beban anggaran, tetapi juga sebagai peluang ekonomi. Di balik penyediaan makanan terdapat rantai ekonomi panjang yang melibatkan banyak pihak: petani yang dapat meningkatkan produksi, peternak yang lebih berani berusaha, koperasi yang lebih aktif, UMKM yang berkembang, hingga sektor logistik yang tumbuh. Yang terpenting, perputaran dana negara berpotensi tetap berada di daerah dan memberikan dampak nyata bagi perekonomian lokal.

Baca juga: Wakapolri: Polri bangun 16 SPPG 3T untuk tingkatkan pelayanan di NTT

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Kembali ke daftar berita